Globalnews7.id,Pariaman,sumbar– Bendera Merah Putih berkibar di atas rakit yang terbuat dari drum bekas, bukan di atas jembatan yang kokoh sebagaimana mestinya. Pemandangan memilukan itu menjadi simbol penderitaan ribuan warga yang hingga kini masih terisolasi akibat runtuhnya Jembatan Anduriang di Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman.
Jembatan Anduriang yang selama ini menjadi akses vital penghubung antar nagari telah lama runtuh. Namun hingga tahun 2026, belum terlihat adanya kepastian pembangunan kembali maupun penyediaan jembatan darurat. Akibatnya, sekitar 30.000 jiwa warga Kecamatan 2X11 Kayutanam terpaksa mempertaruhkan nyawa setiap hari dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana berbahan drum bekas.
Dalam satu kali penyeberangan, rakit tersebut harus mengangkut tiga orang beserta dua unit sepeda motor. Di tengah derasnya arus sungai dan kondisi rakit yang rapuh, warga hanya bisa berharap perjalanan mereka berakhir dengan selamat.
Di atas rakit itu, Bendera Merah Putih sengaja ditancapkan. Bukan sekadar penanda, tetapi menjadi simbol duka sekaligus jeritan minta tolong kepada negara.
“Entah sampai kapan derita ini berakhir, Pak?” demikian pertanyaan yang terus disuarakan masyarakat kepada para pemangku kebijakan.
Lokasi jembatan yang berada di Nagari Kayutanam itu memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sisa-sisa abutment jembatan tampak patah dan menggantung di kedua sisi sungai. Air Batang Anai mengalir deras dengan warna kecokelatan dan dipenuhi bebatuan besar.
Padahal, di seberang sungai terdapat pusat aktivitas masyarakat seperti pasar, sekolah, serta berbagai fasilitas umum lainnya. Jarak yang hanya sekitar 50 meter kini berubah menjadi jurang pemisah antara warga dengan hak-hak dasar mereka.
Masyarakat menilai persoalan ini bukan lagi sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan telah menjadi persoalan kemanusiaan. Dampaknya sangat luas. Aktivitas ekonomi terganggu, akses pendidikan terhambat, pelayanan kesehatan terancam, bahkan kendaraan darurat seperti ambulans tidak dapat melintas.
Setiap hari yang berlalu tanpa solusi dianggap sebagai tambahan risiko bagi keselamatan warga. Terlebih saat musim hujan tiba, arus sungai menjadi semakin deras dan membahayakan. Pada malam hari, penyeberangan menggunakan rakit berubah menjadi pengalaman yang menegangkan dan penuh ancaman.
Warga menilai kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Balai Wilayah Sungai (BWS) V yang memiliki kewenangan terkait pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur.
Masyarakat mendesak agar pemerintah segera mengambil langkah darurat, termasuk memanfaatkan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk membangun jembatan sementara atau memasang Jembatan Bailey demi menjamin keselamatan warga.
Selain itu, warga juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Kementerian PUPR untuk segera turun langsung ke lokasi, melakukan kajian teknis, serta mengumumkan secara terbuka jadwal pembangunan jembatan permanen.
Jeritan masyarakat Anduriang pun semakin menggema.
“Entah sampai kapan derita ini berakhir, Pak Bupati, Pak Gubernur, Pak Menteri. Kami lelah menyeberang sambil berdoa. Kami lelah melihat anak-anak kami menangis ketakutan setiap kali harus melintasi sungai. Kami hanya meminta satu hal: Jembatan Anduriang yang aman.
Tolong jawab jeritan 30.000 jiwa ini sebelum air Batang Anai yang menjawabnya dengan korban jiwa.”
Bagi warga Kayutanam, jembatan bukan sekadar konstruksi beton dan baja. Jembatan adalah urat nadi kehidupan. Jembatan adalah akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keselamatan. Lebih dari itu, jembatan adalah simbol kehadiran negara bagi rakyatnya.
Kini, 30.000 jiwa masih menunggu jawaban. Menunggu bukti bahwa negara tidak menutup mata terhadap penderitaan mereka. Sebab setiap hari tanpa jembatan adalah hari ketika ribuan warga dipaksa mempertaruhkan nyawa demi menjalani kehidupan yang seharusnya menjadi hak mereka.
(Mustofa)












