NPM legendaris Sumatra ini sejarah dan mulanya

Jakarta- globalnews7.id

Birbicara sebuah omotif tentang sejarah awal dan mula sesuatu nama
bus tertua yang masih beroperasi sampai sekarang di Indonesia saat ini.seperti Damri, POMTH ALS, atau Safari Dharma Raya sering masuk dalam daftar PO bus tertua di Indonesia.

Namun, bus mana yang paling tua dan legendaris dan masih eksis sampai sekarang ini tentu ada tanda tanya bagi para peminat. Bagi yang tidak tinggal di Sumatera, pasti masih asing ditelinga dengan perusahaan otobus (PO) Naikilah Perusahaan Minang atau disingkat NPM.

Siapa sangka bus NPM adalah bus tertua legendaris di Sumatera dan di Indonesia yang tak pudar oleh zaman dulu hingga sekarang. NPM diketahui telah berdiri sejak masa penjajahan kolonial Belanda dan Jepang tepatnya pada tahun 1937 an

NPM terus mengalami perubahan-perubahan hingga berhasil mengikuti perkembangan teknologi dan menjadi bus modern sampai saat ini masih banyak diminati oleh pemudik.

Naikilah Perusahaan Minang (NPM) merupakan PO bus tertua di Sumatera Barat dan tertua di Indonesia. Bagaimana tidak perusahaan ini telah beroperasi sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, yakni sekitar tahun 1937.
berikut ini kisah NPM, bus tertua yang masih beroperasi sampai sekarang ini dilansir sebagian diwikipedia dan gabungan media lain.

NPM atau Naikilah Perusahaan Minang didirikan di Padangpanjang, Minangkabau, Sumatera Barat, pada 1 November 1937. Perusahaan jasa transportasi ini didirikan oleh Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang yang berbasis di kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang awalnya adalah seorang pengusaha bendi atau dokar. Bersama beberapa orang pengusaha keturunan Tionghoa, Bahauddin lantas mendirikan bisnis transportasi modern.

perusahaan ini lahir dari sebuah usaha transportasi tradisional. Kini tersebut dikelola oleh generasi ketiga, yaitu Angga Vircansa Chairul.
dikutip dari YouTube PaparaZ TV, Angga Vircansa Chairul menceritakan bagaimana liku perjalanan perusahaan bus yang didirikan kakeknya tersebut.

Pada awal perkembangannya, PO NPM hanya melayani beberapa trayek dalam provinsi Sumatera Barat. Baru beberapa puluh tahun kemudian, PO ini berkembang dengan membuka rute ke berbagai kota di pulau Sumatra.

“Pada generasi kedua yang melanjutkan adalah ayah saya Chairul Bahauddin. Dari sembilan bersaudara, ayah saya anak bungsu. Saat SMA mau kuliah, beliau disuruh tangani perusahaan oleh kakek saya,” kata Angga Vircansa Chairul.

Mulai Membuka Trayek ke Pulau Jawa
Memasuki dekade 1980-an, PO NPM mulai menjalani trayek ke pulau Jawa. Saat itu, nama-nama besar seperti PO ALS dan PO PMTOH sudah lahir dan menjadi pesaing.

Dari Sumatera Barat, PO NPM akhirnya memperluas trayeknya dan memulai pemberangkatan ke berbagai jurusan di pulau Jawa dari beberapa kota, seperti Padang, Bukittinggi, Pariaman, Payakumbuh, dan lainnya.

Era 1900-an hingga awal 2000 adalah puncak kejayaan PO NPM ditandai dengan dibukanya jaringan trayek yang membentang mulai dari Medan, Pekanbaru, Dumai, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung di pulau Sumatra, hingga Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Bandung di pulau Jawa. NPM juga melayani trayek utama di Sumbar, yaitu Padang – Bukittinggi.

“Era 1990-an merupakan masa keemasan transportasi darat. Untuk Padang menuju Medan bisa 40 bus per hari. Coba hitung dalam satu hari ada tujuh rit dari jam 5 pagi. Berarti setiap 5 menit ada bus NPM lewat, termasuk bus-bus lainnya,” kata Angga.

Melewati Krisis dan Eksis hingga kini
Masuk pada tahun 2000-an semua PO bus mengalami tantangan besar karena perkembangan moda transportasi yang lain seperti pesawat, kereta api, hingga maraknya kendaraan pribadi.

Hal itu membuat menurunnya angkutan penumpang bus jarak jauh. Kondisi itu menyebabkan banyak perusahaan bus termasuk PO NPM mengalami krisis dan kemerosotan.

“Situasi ini menjadi tantangan. Saya sendiri awalnya tidak berkecimpung di dunia bus. Saya lulus kuliah S2 dari Australia. Namun, ayah meninggal pada 2006. Saya terpanggil untuk melanjutkan usaha walaupun sudah bekerja sekitar 2,5 tahun di salah satu bank swasta di Jakarta,” ujar Angga.

Untuk keluar dari krisis tersebut, Angga selaku generasi ketiga tergerak melakukan pengembangan usaha dengan membuka angkutan pariwisata bernama Vircansa Tour Bus yang beroperasi di Sumatera Barat dan sekitarnya.

Direktur NPM terus melakukan pembenahan dan tak mau tergerus zaman sehingga sat ini masih eksis.

(Bn/pm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *