Globalnews7.id,Jakarta – Di tengah derasnya sorotan publik terhadap institusi kepolisian, satu nama tetap berdiri tegak sebagai simbol integritas dan ketegasan: Brigadir Jenderal Polisi Hengki Haryadi. Perwira tinggi Polri kelahiran Palembang, 16 Oktober 1974 ini dikenal sebagai jagoan reserse bertangan dingin wong kito, sosok yang tak hanya disegani lawan, tapi juga dihormati kawan.
Karier Hengki dimulai sejak penugasan di Polres Dili, Timor-Timur, pada 1997. Sejak itu, langkahnya tak pernah surut. Dari menjabat sebagai Kapolres di berbagai wilayah strategis hingga Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, kini ia mengemban amanah sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Tingkat II di Bareskrim Polri.
Namun bukan sekadar jabatan yang membuatnya mencuri perhatian. Hengki dikenal sebagai sosok yang presisi dalam membongkar kasus-kasus besar. Mulai dari penangkapan preman legendaris Hercules Rosario de Marshall, pengungkapan pembunuhan berantai oleh Wowon Cs, sindikat jual beli ginjal internasional, hingga kasus viral Mario Dandy yang menyeret pejabat publik, semuanya dituntaskan dengan pendekatan strategis dan taktis.
Atas kiprahnya, ia bahkan diganjar penghargaan dari Badan Narkotika Amerika Serikat (DEA) berkat keberhasilannya menggagalkan penyelundupan 1,3 ton ganja dan 120 kg sabu.
Tak hanya dikenal keras dalam penindakan, Hengki juga dikenal bersahaja di kehidupan pribadi. Ia adalah ayah dari empat anak dan suami dari Duma Intan Karenina. Dalam laporan LHKPN tahun 2023, kekayaannya tercatat sebesar Rp4,9 miliar – angka yang dinilai wajar dan mencerminkan transparansi serta integritas seorang pejabat negara.
“Tugas polisi bukan hanya menangkap pelaku kejahatan, tapi juga menciptakan rasa aman dan kepercayaan publik,” ungkapnya dalam sebuah wawancara, merangkum filosofi pengabdian yang ia pegang teguh.
Di saat kepercayaan publik terhadap penegak hukum tengah diuji, Brigjen Hengki Haryadi muncul sebagai bukti bahwa Polri masih memiliki tokoh dengan dedikasi dan integritas tanpa kompromi. Ia bukan sekadar aparat, tapi teladan penjaga keadilan yang menjadikan hukum sebagai panglima sejati(parman)












