Sekjen MUI,Perjuangan umat& Bangsa untuk meraih kemuliaan dan Kemenangan

Jakarta- globalnews7.id

Batam–Perjuangan umat & bangsa untuk meraih kemuliaan dan kemenangan
Tema khutbah Idul Adha 1443 H ini disampaikan Buya Dr. Amirsyah Tambunan Sekjen MUI di Lapangan Parkir Sport Halll Temenggung Abd Jamal
Kota Batam dihadiri ribuan kaum muslimin (9/7/22).

Sungguhpun terdapat perbedaan penyelenggaraan salat Idul Adha, akan tetapi kita yakin di tengah perbedaan ini ada hikmah untuk memperoleh banyak kebaikan QS :2:269:

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Allah sumber kebaikan untuk memberikan hikmah, yaitu kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama dan sifat bijak berupa kebenaran dalam setiap perkataan dan perbuatan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Salah satu cara umat Islam untuk memperoleh kebaikan di belahan bumi pada 10 Dzulhijah setiap tahun umat Islam juta an mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid ke angkasa lepas sebagai rasa syukur kepada Allah, dan pengakuan selaku hamba Allah serta pernyataan untuk selalu taat kepada-Nya.

Waktu yang sama, hari ini dikota suci Mekah, umat Islam dari berbagai negara dari seluruh penjuru dunia hadir menunaikan ibadah haji, memenuhi panggilan Allah.

Sungguh bahagia, saudara-saudara kita yang saat ini mendapat panggilan untuk melaksanakan ibadah haji memperolah haji mabrur.

Mereka telah memanfaatkan momentum yang telah diberikan Allah dengan sebaik-baiknya untuk memperolah kebaikan ditengah banyaknya umat manusi yang tersesat dalam kezaliman dan kemungkaran.

Sungguh banyak kesempatan yang Allah berikan kepada manusia untuk memperolah amal kebajikan, tetapi kenapa jiwa dan hatinya belum terpanggil melaksanakan kebajikan ?.

Memang haji adalah ibadah yang berat, sebab memadukan antara ibadah jiwa, raga dan harta. Karena itu, siapapun hendaklah melangkah dengan cepat, dan jangan menunda-nunda manakala telah mampu untuk melaksanakannya, karena melaksanakan haji berarti akan mendatangkan banyak kebajikan sebagai ganjaran haji mabrur.

Rasulullah Saw bersabda:
Barang siapa hendak mengerjakan haji, maka bersegeralah, karena dia mungkin akan sakit, hilang kesempatan dan kebutuhan lain. (HR Ahmad, Hakim dan Abu Dawud dari Ibu Abbas).
Untuk memperkuat landasan umat dalam
berjuang harus mengambil ibrah kepada sejumlah peristiwa;

Pertama, memperhatikan peristwa yang mulia Allah memberikan hikmah berupa keteladanan pada momentum Idhul Adha yakni perjuangan Nabi Ibrahim As, yang dengan pengorbanannya telah berhasil mewujudkan ibadah haji dan syariat penyembelihan hewan kurban bagi orang- orang mukmin sampai sekarang. Allah berfirman yang artinya:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ
Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Di hari yang bersejarah ini, kita diingatkan kembali kepada perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim As, dan juga nabi-nabi yang lain, dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan, baik yang datang dari dalam diri maupun masyarakat sekitarnya. Pelajaran yang dapat kita petik adalah semakin kuat iman seseorang semakin besar pula cobaan dan ujian yang dihadapinya. Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi batangnya, maka semakin besar pula angin yang menerpanya.

Kedua, perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap kaumnya yang mengajak agar beriman dan mentauhidkan Allah sangatlah besar. Bertahun-tahun ia berjuang membasmi faham syirik dan berbagai macam kebathilan yang merata dikalangan kaumnya, tetapi tantangan dan ancaman semakin hebat, dan perlawanan dari penguasa ketika itu, raja Namrud, juga semakin keras dan kejam. Atas petunjuk Allah Nabi Ibrahim As beserta Istri dan anaknya, Ismail, meninggalkan negeri dan kaumnya, untuk hijrah ke suatu lembah yang terpencil kering dan gersang, namun sangat dan optimisme untuk meneruskan perjuangan yaitu negeri Mekah.

Selang beberapa waktu ditempat yang baru itu, kembali Nabi Ibrahim As diuji Allah Swt. Ia bemimpi, Allah memerintahkannya untuk menyembelih Ismail, putra semata wayang yang sangat dicintainya. Sehari sesudah mendapat mimpi itu, Nabi ibrahim merenungkan mimpinya itu, apakah benar datang dari Allah atau bukan. Itulah yang disebut Yaumut Tarwiyah, hari perenungan dan pemikiran. Dihari kedua, barulah ia yakin bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah, sehingga disebut Yaumul Arafah, hari mendapatkan pengetahuan dengan sadar. Dan akhirnya pada hari ketiga Nabi Ibrahim As mengambil keputusan dengan penuh keyakinan yang dikenal dengan Yaumun Nahr, hari melaksanakan penyembelihan.

Pada saat pengorbanan yang akan berlangsung, terjadilah dialog antara Ibrahim dan putranya Ismail, yang sangat menggugah hati dan perasaan, sebagai contoh kuatnya iman dan takwa mereka kepada Allah Swt. Al Qur’an menggambarkan:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha beramanya, (Ibrahim) berkata : Wahai anakku, Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!. Ismail menjawab; Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. As Shafat /37 ; 102)

Begitu mengharukan proses pengorbanan itu, terlebih lagi ketika Ismail dengan penuh tawakal memohon kepada Ayahnya “Wahai ayah! Ikatlah kaki dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang. Telungkupkan tubuh saya sehingga muka menghadap ke tanah, supaya ayah tidak melihat wajah saya. Ayah! Jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian ayah karena bisa menyebabkan perasaan iba, sehingga akan mengurangi pahala. Dan asahlah pisau itu tajam- tajam, agar penyembelihan berjalan lancar. Wahai ayah! Baju saya yang berlumur darah nanti, bawalah pulang dan serahkan pada ibu, dan sampaikan salamku kepadanya, semoga beliau sabar menerima ujian ini. Setelah dialog tersebut berlangsung Allah mengatakan:

فَلَمَّاۤ اَسۡلَمَا وَتَلَّهٗ لِلۡجَبِيۡنِ‌ۚ

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
Maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah merebahkan Ismail, meletakan pipinya di atas tanah. Lalu kami panggilah ia. “Wahai Ibrahim, telah engkau turuti perintah itu!” Demikianlah, Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik. Ketahuilah, bahwa perintah ini hanyalah ujian yang nyata”. (QS As Shafat 103-106)

Akhirnya Nabi Ibrahim As dilarang menyembelih putranya, setelah dinyatakan Allah lulus menjalani ujian. Sebagai gantinya Allah Swt memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih binatang kurban. Dan sejak itu maka sebagai tanda bersyukur beliau, pada waktu tertentu secara kontinyu menyembelih hewan untuk ibadah kurban. Kemudian amaliah ini ditingkatkan lagi oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaima digambarkan dalam hadits:

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah; apakah qurban itu? Nabi menjawab: Itulah sunah yang dijalankan oleh bapakmu Ibrahim. Mereka bertanya lagi: Apakah keuntungan kurban itu bagi kita? Nabi menjawab : pada setiap helai bulunya dihitung menjadi satu kebajikan. (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita, apa sesungguhnya makna dan pelajaran yang dapat kita petik dibalik peristawa haji dan kurban yang telah dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim As.

Maka pertanyaannya adalah pengorbanan apa yang telah kita lakukan sebagai seorang muslim demi cita-cita hidup kita sebagai hamba Allah?. Islam adalah agama menuntut bukti perjuangan dan pengorbanan dari setiap hambanya. Lihatlah kehidupan para Nabi dan Rasul, para sahabat Nabi, para Syuhada, Mujahidin dan Shalihin. Tak satupun diantara mereka yang sepi dari cobaan atas perjuangan dan pengorbanan, baik dalam bentuk moril maupun materiil, bahkan harta, jiwa dan raga telah mereka serahkan untuk kejayaan Islam. Dengan modal sabar, ikhlas, Ridha menjalankan perintah Allah sami’na wa’stho’na merupakan landasan yang kuat dalam menghadapi ujian dan cobaan.(sekjen MUI Buya DR.Amirsyah Tambunan)

Oleh Karena itu, marilah peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan Ismail harus kita jadikan i’tibar, suatu pelajaran dan peringatan. Yakni bahwa anak dan harta hakekatnya adalah milik Allah, dan kepada- Nya lah harus kita kembalikan. Harus kita sadari semua itu hanyalah amanat Allah, karena itu kita dituntut untuk mengorbankan sebagian harta itu untuk ditasarufkan di jalan Allah bagi kepentingan ibadah sosial dan kemasyarakatan.
Secara normatif ritual haji dan kurban adalah bukti kepedulian Islam dan pemeluknya kepada kaum dhuafa dan mereka yang tertindas. Ibadah tersebut merupakan otokritik dan koreksi terhadap seluruh kehidupan sosial yang terdapat ketimpangan dan penderitaan bagi sebagian warga masyarakat.

Persoalanya adalah bagaimana kita mampu memberikan solusi baik secara normatif maupun secara empiris dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan umat manusia.

Ritual haji dan kurban bukan sekedar pergi ke Makkah, wukuf di Arafah, dan membagikan daging kepada fakir miskin, tapi bagaimana praktek ritual itu benar-benar mampu menjadi motivasi untuk mengatasi mengkemiskinan, membebaskan penderitaan, dan menghentikan keculasan moral politik kekuasaan.

Selalu penting dicari tafsir baru yang lebih operasional dari pada pergi haji setiap tahun dengan kuota yang semakin terbatas di tengah mayoritas warga yang miskin dan menderita. Perlu ada fatwa larangan haji berkali-kali di tengah terbatasnya kuota. Perlu dicari praktek ibadah kurban daripada sekedar membagi sekerat daging kepada kaum papa yang dari tahun ke tahun tetap dalam kemiskinan dan penderitaan.

Ironisnya, ritual haji dan kurban sering menjadi ajang pamer kekuasaan dan kekayaan, alih-alih memihak kepada fakir-miskin. Kita sering melihat bagaimana penuaian ibadah haji dan kurban dijadikan “pemutihan” dosa, peneguhan spiritual bagi kelanggengan kekuasaan, meraih jabatan atau kekayaan dalam tempo singkat secara tidak wajar. Tidak jarang seseorang pergi haji dan berkurban guna mencari status sosial sebagai topeng kesalehan dari mereka yang culas dan korup.

Hari Raya Idul Adha memiliki nilai jauh lebih besar dari Hari Raya idul Fitri. Keistimewaan hari raya kurban terletak pada pembuktian secara empiris pemihakan kaum Muslimin kepada fakir miskin. Hari Raya Kurban ialah hari kaum Muslimin yang mampu, sekali sepanjang hidup, menunaikan ibadah haji. Sedangkan berkurban dapat dilakukan setiap tahun bagi yang telah mampu. Ritual haji adalah prosesi napak tilas perjalanan spiritual dan kesadaran kemanusiaan sekaligus kesadaran ilahiah Nabi Ibrahim. Karena itu ibadah haji merupakan puncak ritual dalam sistem ajaran Islam. sementara ritual kurban merupakan sintesis hubungan antar manusia dan manusia dengan Sang Khalik. Hubungan antar manusia dalam ibadah kurban tersebut menjadi bernilai ketika yang memiliki kemampuan diwajibkan berkurban yang sebagian dagingnya diberikan kepada fakir miskin. Persoalanya adalah bagaimana para hujjaj di Mekah dan mereka yang berkurban di luar Mekah memahami seluruh prosesi ritual yang mereka jalani. Bagaimana ritual shalat sunnah dua rakaat di Hari Raya Haji dan prosesi penyembelihan hewan kurban diberi makna Ilahiyahnya, sehingga betul membekas dalam kehidupan keseharian kita.
Nilai-nilai Qurban harus dapat menjadi filter dalam meracuni moral dan akhlak umat. Pergaulan antara pria dan wanita telah menjadi begitu royal dan bebas tanpa mengindahkan nilai-nilai agama. Mempertontonkan aurat dan memamerkan kecantikan di tempat-tempat umum telah menjadi suatu keharusan, seolah-olah halal dan biasa saja. Disisi lain kesadaran menutup aurat juga sudah muncul walaupun belum sempurna. Lebih seronok lagi dengan beredarnya minum-minuman keras, film dan video porno serta aneka tempat hiburan yang haram sampai kepada bahaya prostitusi. Jelas produk-produk kemaksiatan tersebut membahayakan dan meruntuhkan moral bangsa, manakala tidak sedini mungkin tidak diadakan pembendungan sekuat-kuatnya melalui ketahanan agama.
Berdasarkan uraian tersebut, nyatalah bahwa merubah kezaliman di tengah masyarakat memerlukan perjuangan yang berat, apalagi jika kemungkaran itu merambah di kalangan pemimpin dan elite masyarakat kita, dan sudah dijadikan mode oleh mereka. Tentu perjuangan akan menuntut pengorbanan yang lebih berat dan resiko yang besar, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim As, ketika berjuang memberantas kebatilan dikalangan kaumnya, sehingga beliau harus berhadapan dengan raja Namrud beserta keluarganya.

Karena itu menjadi kewajiban kita semua untuk memiliki kesadaran kolektif bahwa tidak satu orangpun dan satu bangsapun di dunia yang sempurna. Masing-masing kita harus selalu siap untuk saling menasehati, berani mengkritik dan dikritik, guna mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik dan dibenar, diridhoi Allah Swt. Akhirnya, dalam suasana Idul Adha ini, patutlah kiranya kita ajukan pertanyaan mendasar, kepada masyarakat kita, juga kepada para pemimpin calon pemimpin yang akan kita pilih. Sejauhmana kita telah berjuang di jalan Allah, dan seberapa besar pengorbanan yang telah kita berikan untuk dakwah dan pengabdian kita kepada Allah.

Maka marilah kita tolong menolong sesama anak bangsa bersama pemimpin bangsa ini, untuk mengatasi krisis ekonomi yang tengah dialami oleh bangsa-bangsa di dunia akibat wabah Covid-19 termasuk dialami bangsa Indonesia. Kita doakan agar para pemimpin kita, menjadi pemimpin yang amanah, yang dapat mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab, sehingga menjadi bangsa yang adil, makmur dan diridhoi Allah Swt. Firman Allah:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul- Nya; mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (QS Al Hujarat; 15).

(Burhanuddin/Mulyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *