Ada yang Sudah Sibuk dengan Transformasi Bangsa dan Ada yang Masih Merepotkan Diri dengan Agenda Reformasi

  • Share

Jakarta,Globalnews7.id

Oleh: Andre Vincent Wenas

“Menyelamatkan demokrasi” dan “agenda reformasi tak boleh dikangkangi”. Dua jargon yang selalu digaungkan Ganjar (dan juga Anies) maupun para pendukungnya.(Banjarmasin, Rabu 3 April 2024)

Berceloteh soal pengkhianatan demokrasi dan reformasi sambil mengambinghitamkan Prabowo-Girbran (plus Jokowi) sebagai pihak yang bertanggungjawab.

Tapi rupanya black-campaign mereka gagal total.

Nyatanya mayoritas rakyat Indonesia masih memberikan kepercayaan pada Prabowo-Gibran (58,58%) ketimbang kepada Anies-Muhaimin (24,95%) maupun Ganjar-Mahfud (16,47%).

Disparitas angka kemenangan yang terlalu lebar untuk “dikangkangi” upaya gugat-menggugat hasil pilpres oleh kubu yang kalah.

Kita semua faham bahwa Jokowi ada di kubu Prabowo-Gibran. Tapi selain faktor Jokowi, menarik apa yang disampaikan Josef H. Wenas dalam podcast-nya Analisis Intelijen (Maret 2024) yang menganalisis visi-misi (terutama paslon 02 versus paslon 03).

Bagi yang tertarik untuk mendalami silahkan simak dengan teliti kanal YouTube-nya: https://www.youtube.com/watch?v=krC1Wz5vdYI, yang bertajuk: Prabowo-Jokowi, dari Reformasi ke Transformasi.

Adalah fakta bahwa masyarakat lebih memilih untuk yang sudah sibuk dengan agenda transformasi bangsa. Tidak ambil pusing dengan fitnah soal “demokrasi yang perlu diselamatkan” dan “agenda reformasi yang katanya sedang dikangkangi”.

Adalah kenyataan pula bahwa mayoritas pemilih tidak merasa ada masalah dengan demokrasi di Indonesia. Buktinya pihak Ganjar maupun Anies bebas mengemukakan pendapatnya.

Para suporternya pun saling berdialektika di jalan bebas hambatan medsos (maupun di media arus utama atau mainstream). No problem. Jadi jargon kubu 01 dan kubu 03 terasa hampa tanpa makna.

Faham dan strategi pembangunan Jokowi (Jokowisme) atau developmentalismenya akan dilanjutkan oleh Prabowo-Gibran. Apa yang tertuang dalam Asta-Cita merupakan kelanjutan dari Nawa-Cita.

Hilirisasi, sebagai agenda transformasi dirasa lebih riil dan berakar pada kondisi bangsa saat ini. Indonesia yang sedang berada dalam upaya “melepaskan diri” dari jebakan “middle-income country” harus mengapitalisasi keunggulan komparatifnya (comparative-advantages) menjadi keunggulan kompetitif (competitive-advantages).

Hilirisasi adalah salah satu rute kunci yang mesti diambil. Di samping beberapa agenda besar transformasi lainnya, seperti aspek Kesehatan (BPJS dan makan siang gratis), Anti Korupsi (RUU Perampasan Aset), Ibu Kota Nusantara, dan lainnya.

Menciptakan nilai tambah dalam perekonomian (value added creation) memang butuh keberanian dalam pengambilan keputusan. Para pemain lama yang cuma memburu rente tidak akan tinggal diam.

Tapi rakyat sudah memutuskan memilih jalan Asta-Cita Prabowo-Gibran. Mari kita dukung, demi melapangkan jalan menuju Indonesia Emas 2045.


Andre Vincent Wenas,MM,MBA., Direktur Eksekutif, Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.

(red)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *